Selasa, 12 Mei 2015

Memantaskan Diri (3) #PTRB
Tulisan ini merupakan renungan berantai yang ditulis oleh beberapa teman secara bergiliran. Tulisan ini adalah tulisan ketiga. Tulisan kedua dapat dibaca di blog Ester Damaris disini : http://nuduate.blogspot.com/2015/04/single-rules-for-sacred-search-2-ptrb.html?spref=fb 

“ Because you trust God’s perfect timing and you know that every moment of the wait is preparing you for the one you’ve been waiting for “

Aku seorang perempuan single, yang sebentar lagi akan memasuki usia 25 tahun. Banyak yang beranggapan bahwa usia 25 adalah usia dewasa, matang sudah siap untuk memasuki dunia yang baru, dan dianggap usia ideal untuk membina sebuah rumah tangga. Jadi, jangan heran kita akan lebih sering mendengar pertanyaan “kapan rencananya ni?” atau lebih parahnya lagi jika kawan atau sahabat sudah menikah maka pertanyaan itu akan berubah menjadi “kapan nyusul ni buk? temen kamu udah tu”. Pertanyaan ini tidak akan terasa  terlalu mengganggu bagi mereka yang sudah memiliki kekasih, mereka menjawab dengan senyuman saja sudah cukup. Bagaimana dengan mereka yang sama sekali belum memiliki kekasih? Pertanyaan ini mungkin seperti sembilu yang langsung menusuk ke ulu hati. Jleb.

Aku sering bertanya-tanya juga di dalam hati, saat teman-temanku yang lain sudah memiliki seorang kekasih. Kenapa aku masih sendiri ya? Apa yang salah dengan diriku? Apa memang betul aku tidak memiliki pesona? Apa Tuhan masih mengingatku, atau apakah betul jodohku sudah disiapkan olehNya? Banyak pikiran-pikiran lain yang membuatku (kadang) mengasihani diri sendiri. Jika sudah bisa begitu apa yang bisa kita lakukan? Diam. Tidak ada apa-apa. Apakah hidup hanya mengenai pencarin dan penemuan pasangan hidup? Apakah hidup sebegitu tidak berartinya? Apakah dengan diam maka semuanya akan baik-baik saja? Waktu akan terus berjalan, begitu juga dengan usia kita. Menikah atau menemukan pasangan bukan seperti lomba lari, siapa yang lebih dulu sampai di finish dia yang akan mendapatkan piala. Apakah dengan menikah dan menemukan pasangan, kehidupan akan berjalan dengan mulus tanpa rintangan dan tidak akan mengalami kesedihan? Jawabannya, unpredictable.

Kita harus tetap berjalan, hidup belum berakhir. Keep moving on Ladies. Kita semakin sadar bahwa kualitas kehidupan kita bukan ditentukan oleh siapa yang ada di sisi kita tetapi hanya kita yang mampu membuat hidup kita bermakna. Gunakan waktu sendiri untuk membuat sesuatu yang bermakna. Manfaatkan setiap kesempatan karena inilah waktu yang tepat; saat single. Rangkullah waktu-waktu tersebut sebagai hadiah dari Allah yang berisi kesempatan-kesempatan untuk melayaniNya dan memantaskan diri (memaksimalkan potensi yang ada dalm diri). Kerjakan dulu eden-mu. Dia memperhatikan kebutuhanmu.

Proses pemantasan diri kita lalui bersama dengan Kristus karena Dia yang mampu membantu kita memantaskan diri, membuat kita menjadi berarti. Berikan ruang bagiNya untuk bekerja bersama kita agar apa yang menjadi rencanaNYa dapat berjalan dalam diri kita termasuk juga dalam pencarian kita terhadap pasangan hidup. 'Because you trust God’s perfect timing and you know that every moment of the wait is preparing you for the one you’ve been waiting for '. Kita ingin menemukan pasangan yang tepat yang pantas untuk kita bukan? Kalau begitu kita juga harus menjadi orang yang pantas bagi dia. Dia yang terbaik disiapkan juga bagi kita yang terbaik. Jangan hanya meminta Tuhan untuk menyediakan waktu yang tepat bagi kita untuk bertemu dengan dia yang pantas bagi kita tanpa pernah berusaha untuk memantaskan diri. Jadilah bijak dalam mengisi masa penantian. Jika belum selesai dengan diri sendiri, masih ada impian yang ingin dicapai. Selesaikan, gapailah mimpi itu. Jangan takut menjelajah tempat baru, memasuki tempat pelayanan baru, memainkan peran yang baru. Bagaimana jika kita masih mengalami kekosongan dan kehampaan? Mintalah Tuhan mengisi kekosongan itu, bukan menjadikan itu alasan bagi kita untuk mengiyakan semua tawaran cinta dari sembarang lelaki (dengan harapan, kekosongan kita mampu diisi oleh kehadiran seorang lelaki). Penuhkan dirimu dan hatimu dengan mencapai mimpi-mimpimu, dengan perjalanan-perjalananmu, dengan pengalaman-pengalamanmu. Jangan harap bahwa pasangan kita kelak mampu mengisi penuh hidup dan hati kita. Saya dan dia adalah pribadi-pribadi yang berbeda, yang menempuh perjalanan hidup yang berbeda, latar belakang yang berbeda dan terkadang memiliki mimpi yang berbeda pula, berarti yang satu pihak harus melupakan bahkan mengubur mimpinya untuk mewujudkan mimpi pihak yang lain. Penuhkan diri hanya dengan meminta Tuhan mengisi hati kita.

Saya pernah jatuh cinta. Saya betul-betul yakin dengan dia, karena sepertinya dia membalas perasaan saya. Bagaimana bisa saya beranggapan begitu? Karena dia menujukkan juga perhatian itu pada saya. Saat saya menikmati perasaan itu, saya diharuskan untuk memasuki wilayah pelayanan yang baru. Saya ditempatkan di tempat yang jauh dari dia. Saat berada di daerah pelayanan, saya tidak bisa berbohong kalau masih banyak waktu saya yang tersita oleh dia. Rasa rindu terhadap kampung halaman semakin menjadi. Yang ada dipikiran saya hanyalah ingin pulang, pulang dan pulang. Sampai suatu saat, saat saya kembali ke kampung halaman dan menemukan sebuah fakta baru bahwa dia yang saya cinta (dan yang saya pikir mencintai saya) adalah milik orang lain. Ternyata saat saya menikmati kedekatan kami dulu, dia sedang menjalin sebuah hubungan dengan perempuan lain. Pedih? Tentu iya. Harapan saya untuk mempunyai seorang kekasih semakin jauh (tentunya, karena saya berharap dialah orangnya :/ ), ditambah lagi tempat pelayanan saya yang sekarang (saya pikir) kurang mempunyai potensi sebagai tempat pencarian pasangan hidup.


Apa yang harus saya lakukan kalau begitu? “Keadaan sekeliling dan lokasi geografismu tidaklah mengancam kehendak dan tujuan Allah. Dia satu hari kelak akan membawa pria yang tepat padamu jika Anda memang akan menikah. Lokasi atau pekerjaanmu mungkin tidak membuatmu sangat mudah dijangkau oleh pria-pria saleh yang belum berpasangan, tetapi berbagai penghalang jalan ini tidak akan merintangi Allah” (Lady in Waiting, p.52). Saya hanya perlu percaya kepada waktu terindah dari Tuhan sambil bersiap mengindahkan diri untuk menyambut hari indah bersama ‘dia’ yang diindahkan juga. Saya tidak takut menghadapi masa single, saya tidak terlalu terganggu dengan pertanyaan “kapan nikah?” karena semua orang mempunyai jalan hidup masing-masing. Tidaklah mudah untuk percaya kepada janji Tuhan dan menunggu itu terbukti. “Aku benar-benar tahu bahwa menantikan Allah membutuhkan kerelaan untuk menanggung ketidakpastian, membawa di dalam diri pertanyaan yang tak terjawab, mengangkat hati kepada Allah mengenainya setiap kali itu menyusup ke dalam pikiran” (Elisabeth Elliot) 

Waktu-waktu lajang yang masih bisa saya nikmati, saya gunakan untuk memantaskan diri saya supaya saya layak mendapatkan yang terbaik dari Tuhan. Masih ada banyak mimpi yang ingin saya capai, masih banyak hal yang ingin saya nikmati. Dengan ketidakhadiran seorang pendamping bukan berarti saya berhenti melangkah, berhenti mengejar mimpi. Saya tetap berjalan, berjalan dan berjalan samapi suatu hari saya telah menjadi indah bertemua dengan dia yang indah, waktu itu adalah waktu yang indah. Jadi, bagaimana?? Masih takut menjalani masa lajang???



Sabtu, 12 Juli 2014

Kisah Sebentar (I)

Kau menggenggam tangan ini, ada kehangatan yang kurasa. Kau bertanya apakah aku keberatan?? Aku hanya terdiam. Aku yakin kau pasti tau, aku sama sekali tidak keberatan. Aku merasa nyaman dengan genggaman itu, sama seperti kau.

Awalnya, ini hanyalah gurauan. Aku senang mengganggumu yang pendiam, aku suka menggodamu, aku tertawa mendengar cerita konyolmu, senang menyaksikan kekikukkanmu, aku menikmati keberhasilanku saat mengganggumu.
Mereka yang ada di sekitar kita ikut mengganggu kita. Mereka menggoda kita, mereka menceritakan apapun tentangmu kepadaku. Mereka mengait-ngaitkan kau dan aku. Awalnya, ini hanya berjalan biasa. Tapi, semakin sering aku mendengar mereka menceritakan engkau padaku dan memperhatikanmu. Aku merasakan ada yang berbeda. Setiap melihatmu aku merasakan ada getaran berbeda. Awalnya ini hanyalah candaan tapi akhirnya aku merasakan aku jatuh cinta padamu. Ya, aku jatuh cinta. Gangguan dan gurauan ini membuatku merasakan itu. Wajar, aku seorang perempuan yang suka bermain dengan perasaan. Aku akui itu dan aku bersyukur pada Dia yang telah mengijinkan aku merasakan ini padamu.
Rasa ini semakin bertumbuh karena sikap yang kau tunjukkan padaku. Kau menujukkan perhatianmu padaku, kau menunjukkan rasa cintamu padaku (menurutku...hehe).

Jumat, 28 Maret 2014

Tentang Kamu, Tentang Kita, Tentang Aku

Tulisan ini sebenarnya aku tulis sebagai tulisan kesan pesan tentang fakultas dan segala isinya termasuk mereka yang telah menjadi saudara di dalam Teologi 2008 (We Are One)..
Tulisan ini sudah lama tersimpan di my document, sekarang aku ingin menunjukkannya disini..^_^



Aku bersyukur kepada Tuhan setiap kali aku mengingat engkau... :)
       Siapa aku?
·         In The Past
Aku adalah seorang yang pendiam, pemalu dan tidak percaya diri. Aku seorang yang tidak bisa menerima kritikan dari orang lain, aku menganggap bahwa akulah orang terhebat dengan tidak mempunyai cacat sedikit pun. Tetapi itu hanya perasaanku saja, dan dari rasa membanggakan diri sendiri secara berlebihan itu membuatku tidak bisa menerima kekalahan atau kegagalan sehingga ketika aku memperoleh kegagalan maka aku akan terdiam dan merasa malu sendiri. Dan dari pengalaman ini membuatku menjadi minder karena takut akan membuat kesalahan lagi. Orang-orang disekitarku juga banyak yang mengatakan bahwa aku itu anak yang pendiam tapi “smart” itulah kata mereka tentangku. Tapi sebenarnya di saat aku berada di tengah-tengah keluargaku, aku bisa membawa suasana menjadi lebih hidup. Aku hanya berani mengekspresikan diri ketika berada di tengah-tengah mereka, orang-orang terdekatku. Aku juga seseorang yang mudah mengeluarkan air mata, ketika aku mendapat sedikit teguran maka tanpa diberi aba-aba pun air mataku akan jatuh membasahi bumi. Ini mungkin efek dari sifatku yang tidak bisa menerima kritikan.
·         In The Present
Aku yang sekarang sangat berbeda dengan diriku di masa lalu. Aku juga merasa heran dengan perubahan sifat yang terjadi di dalam diriku. Aku yang sekarang adalah anak yang periang, ceria, tidak pernah kelihatan murung dan terlihat selalu semangat (menurut teman-temanku). Aku yang dulunya tidak berani mengeluarkan pendapat, yang tidak berani bersilat lidah, yang selalu minder jika tampil di depan kelas apalagi tampil di depan banyak orang yang belum terlalu dikenal. Semuanya itu sirna. Tapi perubahan ini benar-benar nyata, aku sudah berani tampil di depan banyak orang bahkan sampai-sampai “tak tahu malu”, aku berani mengeluarkan ide-ideku. Bahkan sekarang aku sudah bisa bergaul dengan teman-temanku (bisa menyesuaikan diri), aku merasa lucu ketika aku mengingat diriku yang selalu minder dan terlalu menutup diri kepada orang lain padahal ketika kita membuka diri kita untuk menerima orang lain di dalam kehidupan kita maka pada saat itu kita akan memperoleh sesuatu yang berharga dan sangat berarti.
Kau bisa melihat perbedaannya??
Ya, aku mengalami perubahan. Itu semua karena KITA. KITA telah menjadi orang-orang terdekat yang memberikan ruang untuk berekspresi. KITA yang memberikan senyuman, KITA yang memberikan dukungan, KITA yang mau memberi dan berbagi. Aku juga semakin bertumbuh karena KITA yang merepotkan, KITA yang menjengkelkan, KITA yang selalu berdebat dan berselisih, KITA yang selalu ingin lari menjadi aku dan kamu. Itu semua karena KITA. Terimakasih banyak buat Dia yang mengjinkan aku dan kamu bertemu menjadi KITA. Bersama KITA semua hal menjadi istimewa. KITA gila bersama, KITA menangis bersama, KITA memecah-mecah dirinya menjadi aku dan kamu tapi dari hal itulah KITA semakin mengenal dan dikuatkan. Aku berharap KITA dapat kembali bertemu dan menujukkan hasil dari perjalanan KITA. KITA akan terus berjuang dan terus ada. Tuhan memberkati KITA (We Are One-Teologi 2008 UKSW).
KITA juga dibantu oleh orang-orang yang hebat. KITA dibantu oleh kakak, ayah, ibu, om, tante, oma dan opa yang datang dalam bentuk dosen-dosen dan staf KITA. Mereka orang-orang hebat yang turut membentuk KITA. Keakraban, persahabatan dan kekeluargaan yang mereka tawarkan suatu hal yang sangat berharga yang dapat membentuk pribadi-pribadi yang hebat. Bersyukur pernah mengenal mereka dan akan terus mengingat jasa mereka. Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan bapak ibu sekalian untuk dapat terus menjadikan Teologi sebagai rumah bagi mahasiswanya... :) 

Harapanku sangat besar untuk dapat bertemu kembali denganmu, bercanda denganmu dan menikmati hari denganmu. Sampai ketemu.. ;)

Kamis, 27 Maret 2014

Aku Menikmati Hariku Disini

Kesal-Kangen
Sakit-Sehat
Tawa, Canda- Air Mata
Lelah-Semangat

Rasa yang berlawan tapi bisa datang bersamaan. Itu yang kurasakan ketika aku berada disini, Pos Pengungsian. Yup, pos pengungsian yang sudah seperti rumah bagiku. Hampir 5 bulan lebih berada disini, kami sudah saling mengenal dan saling tahu.
Kami tertawa bersama, kami bekerja bersama, kami juga bersenang-senang bersama.
Hari Minggu, 23 Maret 2014 aku bersama dengan keluarga baruku pergi untuk rekreasi bersama. Setelah hampir 5 bulan berada di pos pengungsian, ini adalah pertama kalinya kami pergi rekreasi bersama.. :)
Kami rekreasi ke sebuah daerah yang bernama Sukamakmur. Disana kami mencari ikan bersama di sebuah kolam yang sengaja dikeringkan (dalam bahasa Karo kami menyebutnya ndurung..hehe). Seperti biasanya, saya suka dengan kehebohan, saya berjingkat di dalam lumpur, saya melompat-lompat sambil mencari-cari ikan di dalam lumpur tersebut. Saya juga perang lumpur dengan adik-adik, seluruh badan sudah dilumuri lumpur. Rambut lengket penuh kumpur. Saya senang, saya menikmati hari itu. Saya menikmati kebersamaan dan kegilaan dengan adik-adik juga.
Saat sedang serius-seriusnya mencari-cari ikan, saya merasakan sesuatu di kaki saya. Ouchh.. Ada rasa perih dan seperti ada yang koyak. Saya mengangkat kaki saya dan melihat kaki saya robek -atau apalah bahasanya-, saya bingung, saya agak cemas dan tetap heboh (bawaan orok kali ya, jadi tetap heboh). Ada rasa sakit tapi tidak ada tangisan. Nora (istri Pendeta) yang kebetulan ikut dalam acara rekreasi tersebut membawa kami ke rumahnya yang kebetulan disana juga ada mini klinik-nora tersebut seorang bidan-. Kaki saya dijahit, sekali lagi DIJAHIT. Rasanya... Hmmmm, lebih sakit saat di bius sih..hehehe Baru sadar itu pertama kalinya saya berteriak karena rasa sakit..hahaha
Saya bangga melihat bekas luka itu, aneh kan?? Tapi memang itulah yang saya rasakan.
Sampai saat ini kaki saya masih belum bisa diperlakukan dengan sesuka hati seperti biasanya-lari, lompat, jalan kesana kemari-. Harus diaaaaaaaaaamm. Dan itu sangat membosankan..:/

Tapi satu yang kusadari, keluarga baruku di pos pengungsian ini sangat memperhatikan aku. Saat aku berjalan tertatih ingin ke kamar mandi, anak-anak berebut mengejarku dan menuntunku. Saat mereka melihat aku tertatih, mereka menawarkan sejuta resep pengobatan agar kakiku cepat sembuh. Saat mereka melihat aku tidur siang, mereka berpikir aku demam karena keadaan kakiku. Mereka menunjukkan perhatian mereka dengan berbagai cara. Bahkan ada juga yang bercanda, menirukan cara berjalanku yang tertatih. Walau begitu, aku tahu itu cara mereka menghiburku.. ^_^
Well, walau agak lelah dan terkadang sudah bosan berada disini selalu ada cara-cara unik Tuhan untuk menujukkan keindahan dan perhatian yang pada akhirnya menjauhkan rasa lelah dan bosan itu. Aku menikmati hari-hariku di posko ini, aku menikmati hari-hariku bersama mereka. Ini kesempatakan luar biasa yang dapat kurasakan. Terimakasih banyak, terus mampukan kami memberikan yang terbaik di posko ini.


Minggu, 12 Januari 2014

Aku Melihat Kemuliaan Tuhan

halooo..
akhirnya kita kembali bertemu setelah sekian lama.. :)
Sebelum nulis tentang judul di atas, aku mau ngucapin Happy New Year ya.. \(^_^)/
Lanjut ke judul hari ini
================>

Sekedar informasi, sudah 2 bulan lebih aku berada di salah satu posko pengungsian. Kami berada bersama-sama dengan para pengungsi erupsi Gunung Sinabung. Waktu yang sekian bulan tersebut telah membuat kami seperti sebuah keluarga. Kami saling tertawa dan berbagi cerita, kami juga menyaksikan saat mereka menangis dan berusaha memberikan dukungan bagi mereka. Sekedar infomasi, keadaan Gunung Sinabung sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera membaik malah yang ditunjukkan adalah semakin parah dan menyedihkan.. :(
Hari ini, aku berjalan bersama seorang nenek dan tiba-tiba ia menangis. Aku bertanya "kenapa nek?" Tanpa kuduga nenek berkata "kemana lagi lah kami ini ya nak?? Tadi diinformasikan, kampung kami sudah penuh dengan debu vulkanik. Semua pakaian kemarin dijemur, mau pulang ambil baju juga sudah tidak bisa. Tanaman kopi juga sudah hancur, tebu yang diharapkan jadi penghasilan juga sudah habis. Bagaimana dengan kami ini ya??". DIAM. Hanya itu yang kulakukan. Aku berusaha memberikan penguatan tapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku hanya mengelus punggung nenek tersebut.
Setelah nenek itu melanjutkan perjalanan ke tempat anaknya. Aku kembali ke posko dan kembali melanjutkan pekerjaanku. Tapi aku tidak sepenuhnya fokus. Saat itu jga aku memanjatkan doa "Tuhan, Kau melihat air mata kami kan? Kau melihat air mata nenek itu kan? Kau mendengar seruan kami kan? Kau pasti akan memulihkan keadaan kami kan? Aku tahu Kau pasti akan memulihkan kami. Tuhan berikan kami keyakinan bahwa Engkau akan memulihkan kami. Tunjukkan kemuliaanMu bagi kami"
==================
Hari Minggu ini, kami memilih untuk ikut ibadah jam 5 sore bersama-sama dengan keluarga baruku- para pengungsi -. Mulai hari ini masyarakat yang mengungsi di posko kami akan memakai gedung gereja dekat posko sebagai tempat ibadah mereka. Mereka bukan menumpang ibadah disana bersama dengan jemaat gereja tersebut tetapi mereka ibadah disana sebagai diri mereka sendiri dengan identitas sebagai warga jemaat gereja asal mereka.
Kami telat masuk gereja. Ibadah sudah dimulai tapi gak terlalu telat kok.hehee
Kami duduk. Aku memperhatikan sekeliling, aku melihat mereka-pengungsi-. Tiba-tiba air mataku jatuh. Aku bersyukur kepada Tuhan. Kenapa bersyukur sambil menangis? Karena aku menyaksikan kemuliaan Tuhan. Ya, aku menyaksikannya. Aku melihat mereka sebagai pribadi yang mempunyai identitas. Mereka menujukkan identitas mereka melalui cara mereka mengambil bagian dalam ibadah minggu hari ini. Mereka mengungsi, mereka tidak membawa rumah mereka bersama mereka, mereka juga tidak membawa gereja mereka. Tetapi mereka mendapat tempat untuk tetap bisa melakukan kegiatan peribadatan mereka, dengan cara mereka, dengan identitas mereka.
Seperti yang pendeta sampaikan saat khotbah tadi, "...bangsa Israel saat berada di perbudakan mereka merindukan asal mereka, mereka merindukan kebiasan-kebiasan mereka..." Tetapi, mereka, di tempat yang tidak mereka ketahui (bukan tempat asal mereka), mereka bisa melakukan kebiasaan mereka, mereka bisa menyapa Tuhan mereka dengan cara mereka, dengan pengaturan dari mereka. Itu sangat luar biasa.
Inilah kemuliaan Tuhan yang tadi aku pertanyakan. Dia menujukkanNya melalui dan dalam proses ibadah tadi sore. Tuhan menunjukkan kemulianNya. Inilah awal pembaharuan bagi para pengungsi yang telah Tuhan tunjukkan. Tuhan akan terus menyediakan pembaharuan-pembaharuan bagi umatNya.
Kembali, aku mengingat nenek tadi. Inilah jawaban atas tangisan nenek tadi. Inilah jawaban atas semua kegelisahan dan ketakutan para pengungsi. Tuhan akan terus bekerja bersama-sama dengan manusia. Dia tidak pernah tega melihat kita menderita. Dia akan selalu berencana untuk kebaikan manusia. Tuhan akan tetap bekerja. Kita juga harus tetap bekerja bersama Dia.

Minggu, 03 November 2013

Aku Bisa Bangun Pagi.. Yeeeeeeee \(^_^)/

Kayanya judul di atas jadul banget ya.. :/
Emang siapa sih yang gak bsa bangun pagi??
Trus kalo bisa bangun pagi, kita harus bilang waoooooooo???

Memang tidak terlalu spesial sebenarnya tapi hari ini sungguh aku diliputi ras puas. bangun pagi ternyata menyenangkan..hehe
Memang setiap harinya, Senin-Minggu dituntut untuk bangun pagi karena harus kerja. Kami berangkat dari kampung menggunakan angkutan pedesaan sekitar 06.45, setidaknya harus bangun pago 06.00 supaya tidak ketinggalan bus. Biasanya, aku akan bangun 06.25 atau malah 06.35. Bisa dibayangkan bagaimana buru-burunya setiap pagi. Sebetulnya, jam 06.00 atau lebih pagi lagi aku sudah bangun tapi kembali menarik selimut dan tidur lagi deh. Setiap harinya bagitu, setiap harinya hampir saja ketinggalan bus. Paraaaaaaahh..

Hari ini aku bangun 05.30 (tidak terlalu pagi juga sih).. Selanjutnya cuci beras, masak (tentunya tinggal colok..hehehe). Habis masak nasi, mau ngapain?? Tidur lagi aahhh... Siap-siap mau tidur lagi.. Ehhhhhh..
Bangun lagi, cari warung. Warungnya masih tutup semua.. :(
Pas mau balik ke rumah, denger suara yang punya warung. Langsung saja aku berteriak "Dek, aku mau beli telur dongggggggg!!!, buka pintunya ya..hehehe". Dia membuka pintu, saya mendapatkan telur yang saya inginkan. Balik ke rumah, langsung mengolah telur-telur itu. Mamaku tercinta mendengar keributan kesibukan yang ku buat. Mama tanya "Ngapain?? (sambil senyum-mungkin ini karena heran, kok udah sibuk2 pagi-pagi begini)", "Mau masak telur". Eh, dia senyum lagi. Saya mengolah semua bahan makanan menjadi masakan yang luar biasaaa.. (menurutku,,hehehe)

Semua kesibukan di pagi hari ini karena nenek saya akan datang ke rumah. Nenek saya "mengungsi" ke rumah kami karena kondisi Gunung Sinabung (nenek saya tinggal di daerah kaki gunung). Kenapa harus sibuk di pagi hari? Ya, karena mama harus ke kantor pagi-pagi begitu pula saya. Gak mungkin kita gak nyiapin apa-apa buat nenek dan keluarga yang datang. Memang kita tidak bisa melayani secara langsung tapi setidaknya kita menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Ternyata, segala sesuatu yang dikerjakan dengan cinta pasti akan mendatangkan kepuasan walau hal itu sesuatu yang tidak kita suka. AKu gak suka bangun pagi tapi karena mengingat nenekku aku bangun pagi dan masak di pagi hari. Memang aku merasa jam tidurku terpangkas tapi ketika memasak aku ingat siapa yang akan makan masakan itu, kembali semangat lagi. Terbayang wajahnya yang sudah keriput menikmati makanan itu, rasanya PUAS :D

Senin, 21 Oktober 2013

Ketika Keindahan Menjadi Sumber Ketakutan

Beberapa waktu yang lalu, kita semua tahu tentang peristiwa yang terjadi di Tanah Karo yaitu erupsi Gunung Sinabung. Erupsi ini menyusul erupsi yang telah terjadi juga pada tahun 2010 yang lalu. Tidak ada peringatan untuk segera mengungsi dari pihak yang berwenang kepada warga yang ada di kaki gunung. Kata mereka erupsi yang terjadi pada dini hari di hari Minggu (15/9) tidak dapat diprediksi. Sebelum kejadian meletus pada dini hari itu, masyarakat sudah mulai diingatkan akan status waspada dari gunung tersebut. Masyarakat juga juga ditenangkan dengan informasi yang mengatakan bahwa gunung Sinabung tidak akan meletus dalam waktu dekat, tiga hari sebelum gunung meletus kita akan memperoleh informasinya dari alat yang digunakan dan hal tersebut akan diberitahukan kepada masyarakat khususnya yang terletak di bawah kaki gunung.
Apa yang terjadi?? Sampai gunung Sinabung mengalami erupsi pada dini hari itu, belum ada pemberitahuan dari pihak yang mengawasi aktivitas gunung Sinabung tersebut. Erupsi pada dini hari itu sontak mengejutkan dan berhasil membuat panik semua masyrakat baik yang di kaki gunung walaupun yang jauh dari kaki gunung. Kami menyaksikan gunung menyala dari kejauhan. Kami belum yakin apakah itu letusan ataukah pembakaran hutan yang terjadi di atas gunung. Ketidakyakinan kami karena belum ada pemberitahuan yang lebih lanjut dari petugas. Akhirnya kami menghubungi keluarga yang memang berdomisili di daerah kaki gunung Sinabung, mereka mengatakan bahwa mereka mendengar suara gemuruh dari gunung dan memang benar itu adalah ledakan. Saat itu mereka sedang bersiap untuk mengungsi. Sampai hari itu berlalu, saya belum yakin akan apa yang saya lihat. Saya belum yakin bahwa itu adalah letusan gunung Sinabung. 
Esoknya, di hari Senin. Kami pergi bekerja di kota dan melihat ternyata di daerah Kabanjahe telah banyak berdiri posko-posko pengungsian. Akhirnya saya berkata kepada diri saya sendiri, "ya, berarti benar Gunung Sinabung meletus". Pada hari itu daerah sekitar gunung terlihat aman-aman saja dan menurut perkiraan kami tidak akan terjadi lagi letusan. Memang benar, hari Senin itu semua aman-aman saja. Hari Selasa datang menghampiri, semua kegiatan berjalan seperti biasanya. Bahkan pengungsi di salah satu posko pengungsian sudah siap untuk pulang, ada juga yang sudah berangkat kembali ke desa mereka. Ada ras syukur karena mereka akhirnya bisa pulang kembali. Tapi, tiba-tiba terdengar suara dentuman yang sangat keras. Gunung Sinabung yang kokoh dan megah kembali memperlihatkan kebesarannya melalui dentuman itu, dari kejauhan kami melihat asap hitam tebal membumbung ke atas. Seketika semuanya terasa gelap dan sesak. Kami panik bukan karena peristiwa itu tetapi karena pengungsi yang sedang dalam perjalanan pulang dan juga pengungsi yang sedang berada di ladang-ladang mereka. 
Moderamen GBKP atau Sinode GBKP tempat kami bekerja langsung sigap menanggapi hal tersebut. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah membagikan masker agar masyarakat terhindar dari debu vulkanik Gunung Sinabung. Mobil-mobil yang parkir di depan kantor semua dioperasikan untuk membawa berkardus-kardus masker untuk dibagikan kepada masyarakat. Pegawai moderamen juga tidak ketinggalan, kami membagi-bagikan masker bagi masyarakat yang melintas di depan kantor moderamen.
Semenjak letusan kedua yang lebih besar tersebut, masyarakat Tanah Karo diliputi keresahan dan ketakutan. Semenjak letusan kedua tersebut jumlah pengungsi semakin membludak, sekitar 6266 orang pengungsi tersebar di 12 posko pengungsian. Pengungsi ini berasal dari daerah-daerah sekitar kaki gunung 3-5 km dari gunung. Ketakutan dan keresahan juga meliputi masyarakat yang jauh dari sekitar kaki gunung. Banyak warga yang mengatakan "Setiap saat kita merasakan ketakutan, keresahan. Aktivitas gunung tidak terprediksi, kapan saja bisa meletus kembali". Banyak yang takut akan keberadaan Gunung yang megah, kokoh, dan anggun itu. Hingga saat ini masih sering terjadi letusan-letusan kecil yang menyemburkan debu vulkanij, salah satunya kemarin sore. Ketika melihat ke arah gunung, kami melihat asap tebal membumbung ke atas gunung. 
Setiap pagi, aku memperhatikan gunung itu. Aku melihat dia berdiri dengan kokoh dan indahnya. Ada kesedihan di hati ini, karena gunung yang begitu indah yang menambah pesona Tanah Karo menjadi hal yang sangat ditakutkan bahkan ada yang mengaharapkan dia tidak ada disana. Gunung Sinabung yang membawa keindahan dan menunjukkan kemegahan Tuhan, kini menjadi hal yang ditakutkan. Kasihan dia. Ketakutan dan keresahan yang dialami masyarakat selalu mengkambinghitamkan gunung yang megah itu, kekacauan dan kehancuran pertanian dipersalahkan kepadanya. Manusia tidak pernah mengoreksi diri dan selalu mencari kambing hitam. Kita orang yang berTuhan tapi terkadang mengabaikan Dia dan juga mempersalahkanNya melalui mempersalahkan alam ciptaanNya. Ada ungkapan syukur juga ketika di masa saya, saya bisa melihat kebesaran gunung itu, ada ungkapan syukur juga ketika dia telah pulih kembali dia akan memberikan hasil yang luar biasa bagi kita. Kesuburan tanah itu yang akan ia berikan. Keseburan tanah akan membeawa hasil yang berlipat ganda bagi para petani di sekitar Gunung Sinabung. Setiap ciptaan membutuhkan waktu untuk menujukkan siapa dirinya. Inilah waktu Gunung Sinabung menunjukkan dirinya dan kemegahannya. Beri dia waktu dan sabar terhadapnya. Jangan menghujatnya karena selama ini dia senantiasa mendampingi masyarakat Karo, memberikan udara yang bersih yang bisa dihirup oleh masyarakat Karo. Dia senantiasa menambah keindahan alam Tanah Karo, sampai saat ini pun dia tetap begitu. Kau yang dahulu dicipatakan indah, sekarang engkau semakin indah dan terlihat perkasa. Kami bangga kau ada di Tanah Karo. 

Gunung Sinabung

Terimakasih ya Tuhan atas keindahan alam yang Kau beri dan lindungi kami ketika kami merasa resah dan takut karena peristiwa alam yang terjadi. Berikan kepada kami kekuatan dan kemampuan untuk melihat rencana Tuhan di tengah debu vulkanik agar kami tidak mengecewakanMu dengan tidak mengucap syukur.