Selasa, 12 Mei 2015

Memantaskan Diri (3) #PTRB
Tulisan ini merupakan renungan berantai yang ditulis oleh beberapa teman secara bergiliran. Tulisan ini adalah tulisan ketiga. Tulisan kedua dapat dibaca di blog Ester Damaris disini : http://nuduate.blogspot.com/2015/04/single-rules-for-sacred-search-2-ptrb.html?spref=fb 

“ Because you trust God’s perfect timing and you know that every moment of the wait is preparing you for the one you’ve been waiting for “

Aku seorang perempuan single, yang sebentar lagi akan memasuki usia 25 tahun. Banyak yang beranggapan bahwa usia 25 adalah usia dewasa, matang sudah siap untuk memasuki dunia yang baru, dan dianggap usia ideal untuk membina sebuah rumah tangga. Jadi, jangan heran kita akan lebih sering mendengar pertanyaan “kapan rencananya ni?” atau lebih parahnya lagi jika kawan atau sahabat sudah menikah maka pertanyaan itu akan berubah menjadi “kapan nyusul ni buk? temen kamu udah tu”. Pertanyaan ini tidak akan terasa  terlalu mengganggu bagi mereka yang sudah memiliki kekasih, mereka menjawab dengan senyuman saja sudah cukup. Bagaimana dengan mereka yang sama sekali belum memiliki kekasih? Pertanyaan ini mungkin seperti sembilu yang langsung menusuk ke ulu hati. Jleb.

Aku sering bertanya-tanya juga di dalam hati, saat teman-temanku yang lain sudah memiliki seorang kekasih. Kenapa aku masih sendiri ya? Apa yang salah dengan diriku? Apa memang betul aku tidak memiliki pesona? Apa Tuhan masih mengingatku, atau apakah betul jodohku sudah disiapkan olehNya? Banyak pikiran-pikiran lain yang membuatku (kadang) mengasihani diri sendiri. Jika sudah bisa begitu apa yang bisa kita lakukan? Diam. Tidak ada apa-apa. Apakah hidup hanya mengenai pencarin dan penemuan pasangan hidup? Apakah hidup sebegitu tidak berartinya? Apakah dengan diam maka semuanya akan baik-baik saja? Waktu akan terus berjalan, begitu juga dengan usia kita. Menikah atau menemukan pasangan bukan seperti lomba lari, siapa yang lebih dulu sampai di finish dia yang akan mendapatkan piala. Apakah dengan menikah dan menemukan pasangan, kehidupan akan berjalan dengan mulus tanpa rintangan dan tidak akan mengalami kesedihan? Jawabannya, unpredictable.

Kita harus tetap berjalan, hidup belum berakhir. Keep moving on Ladies. Kita semakin sadar bahwa kualitas kehidupan kita bukan ditentukan oleh siapa yang ada di sisi kita tetapi hanya kita yang mampu membuat hidup kita bermakna. Gunakan waktu sendiri untuk membuat sesuatu yang bermakna. Manfaatkan setiap kesempatan karena inilah waktu yang tepat; saat single. Rangkullah waktu-waktu tersebut sebagai hadiah dari Allah yang berisi kesempatan-kesempatan untuk melayaniNya dan memantaskan diri (memaksimalkan potensi yang ada dalm diri). Kerjakan dulu eden-mu. Dia memperhatikan kebutuhanmu.

Proses pemantasan diri kita lalui bersama dengan Kristus karena Dia yang mampu membantu kita memantaskan diri, membuat kita menjadi berarti. Berikan ruang bagiNya untuk bekerja bersama kita agar apa yang menjadi rencanaNYa dapat berjalan dalam diri kita termasuk juga dalam pencarian kita terhadap pasangan hidup. 'Because you trust God’s perfect timing and you know that every moment of the wait is preparing you for the one you’ve been waiting for '. Kita ingin menemukan pasangan yang tepat yang pantas untuk kita bukan? Kalau begitu kita juga harus menjadi orang yang pantas bagi dia. Dia yang terbaik disiapkan juga bagi kita yang terbaik. Jangan hanya meminta Tuhan untuk menyediakan waktu yang tepat bagi kita untuk bertemu dengan dia yang pantas bagi kita tanpa pernah berusaha untuk memantaskan diri. Jadilah bijak dalam mengisi masa penantian. Jika belum selesai dengan diri sendiri, masih ada impian yang ingin dicapai. Selesaikan, gapailah mimpi itu. Jangan takut menjelajah tempat baru, memasuki tempat pelayanan baru, memainkan peran yang baru. Bagaimana jika kita masih mengalami kekosongan dan kehampaan? Mintalah Tuhan mengisi kekosongan itu, bukan menjadikan itu alasan bagi kita untuk mengiyakan semua tawaran cinta dari sembarang lelaki (dengan harapan, kekosongan kita mampu diisi oleh kehadiran seorang lelaki). Penuhkan dirimu dan hatimu dengan mencapai mimpi-mimpimu, dengan perjalanan-perjalananmu, dengan pengalaman-pengalamanmu. Jangan harap bahwa pasangan kita kelak mampu mengisi penuh hidup dan hati kita. Saya dan dia adalah pribadi-pribadi yang berbeda, yang menempuh perjalanan hidup yang berbeda, latar belakang yang berbeda dan terkadang memiliki mimpi yang berbeda pula, berarti yang satu pihak harus melupakan bahkan mengubur mimpinya untuk mewujudkan mimpi pihak yang lain. Penuhkan diri hanya dengan meminta Tuhan mengisi hati kita.

Saya pernah jatuh cinta. Saya betul-betul yakin dengan dia, karena sepertinya dia membalas perasaan saya. Bagaimana bisa saya beranggapan begitu? Karena dia menujukkan juga perhatian itu pada saya. Saat saya menikmati perasaan itu, saya diharuskan untuk memasuki wilayah pelayanan yang baru. Saya ditempatkan di tempat yang jauh dari dia. Saat berada di daerah pelayanan, saya tidak bisa berbohong kalau masih banyak waktu saya yang tersita oleh dia. Rasa rindu terhadap kampung halaman semakin menjadi. Yang ada dipikiran saya hanyalah ingin pulang, pulang dan pulang. Sampai suatu saat, saat saya kembali ke kampung halaman dan menemukan sebuah fakta baru bahwa dia yang saya cinta (dan yang saya pikir mencintai saya) adalah milik orang lain. Ternyata saat saya menikmati kedekatan kami dulu, dia sedang menjalin sebuah hubungan dengan perempuan lain. Pedih? Tentu iya. Harapan saya untuk mempunyai seorang kekasih semakin jauh (tentunya, karena saya berharap dialah orangnya :/ ), ditambah lagi tempat pelayanan saya yang sekarang (saya pikir) kurang mempunyai potensi sebagai tempat pencarian pasangan hidup.


Apa yang harus saya lakukan kalau begitu? “Keadaan sekeliling dan lokasi geografismu tidaklah mengancam kehendak dan tujuan Allah. Dia satu hari kelak akan membawa pria yang tepat padamu jika Anda memang akan menikah. Lokasi atau pekerjaanmu mungkin tidak membuatmu sangat mudah dijangkau oleh pria-pria saleh yang belum berpasangan, tetapi berbagai penghalang jalan ini tidak akan merintangi Allah” (Lady in Waiting, p.52). Saya hanya perlu percaya kepada waktu terindah dari Tuhan sambil bersiap mengindahkan diri untuk menyambut hari indah bersama ‘dia’ yang diindahkan juga. Saya tidak takut menghadapi masa single, saya tidak terlalu terganggu dengan pertanyaan “kapan nikah?” karena semua orang mempunyai jalan hidup masing-masing. Tidaklah mudah untuk percaya kepada janji Tuhan dan menunggu itu terbukti. “Aku benar-benar tahu bahwa menantikan Allah membutuhkan kerelaan untuk menanggung ketidakpastian, membawa di dalam diri pertanyaan yang tak terjawab, mengangkat hati kepada Allah mengenainya setiap kali itu menyusup ke dalam pikiran” (Elisabeth Elliot) 

Waktu-waktu lajang yang masih bisa saya nikmati, saya gunakan untuk memantaskan diri saya supaya saya layak mendapatkan yang terbaik dari Tuhan. Masih ada banyak mimpi yang ingin saya capai, masih banyak hal yang ingin saya nikmati. Dengan ketidakhadiran seorang pendamping bukan berarti saya berhenti melangkah, berhenti mengejar mimpi. Saya tetap berjalan, berjalan dan berjalan samapi suatu hari saya telah menjadi indah bertemua dengan dia yang indah, waktu itu adalah waktu yang indah. Jadi, bagaimana?? Masih takut menjalani masa lajang???



4 komentar:

  1. raihlah mimpi dan penuhilah harapan2 selagi masih lajang :)

    terima kasih sudah diingatkan..^_^

    BalasHapus
  2. Terimakasih ka Lastri. Saya rindu menjadi indah dimata Tuhan,agar Tuhan mengindahkan saya pada setiap rencana indahNya yang tidak terjangkau pikiran muda kurang pengalaman di dalam diri saya. Saya sangat diberkati k.

    BalasHapus
  3. Terimakasih ka Lastri. Saya rindu menjadi indah dimata Tuhan,agar Tuhan mengindahkan saya pada setiap rencana indahNya yang tidak terjangkau pikiran muda kurang pengalaman di dalam diri saya. Saya sangat diberkati k.

    BalasHapus
  4. Terimakasih ka Lastri. Saya rindu menjadi indah dimata Tuhan,agar Tuhan mengindahkan saya pada setiap rencana indahNya yang tidak terjangkau pikiran muda kurang pengalaman di dalam diri saya. Saya sangat diberkati k.

    BalasHapus