Apa yang terjadi?? Sampai gunung Sinabung mengalami erupsi pada dini hari itu, belum ada pemberitahuan dari pihak yang mengawasi aktivitas gunung Sinabung tersebut. Erupsi pada dini hari itu sontak mengejutkan dan berhasil membuat panik semua masyrakat baik yang di kaki gunung walaupun yang jauh dari kaki gunung. Kami menyaksikan gunung menyala dari kejauhan. Kami belum yakin apakah itu letusan ataukah pembakaran hutan yang terjadi di atas gunung. Ketidakyakinan kami karena belum ada pemberitahuan yang lebih lanjut dari petugas. Akhirnya kami menghubungi keluarga yang memang berdomisili di daerah kaki gunung Sinabung, mereka mengatakan bahwa mereka mendengar suara gemuruh dari gunung dan memang benar itu adalah ledakan. Saat itu mereka sedang bersiap untuk mengungsi. Sampai hari itu berlalu, saya belum yakin akan apa yang saya lihat. Saya belum yakin bahwa itu adalah letusan gunung Sinabung.
Esoknya, di hari Senin. Kami pergi bekerja di kota dan melihat ternyata di daerah Kabanjahe telah banyak berdiri posko-posko pengungsian. Akhirnya saya berkata kepada diri saya sendiri, "ya, berarti benar Gunung Sinabung meletus". Pada hari itu daerah sekitar gunung terlihat aman-aman saja dan menurut perkiraan kami tidak akan terjadi lagi letusan. Memang benar, hari Senin itu semua aman-aman saja. Hari Selasa datang menghampiri, semua kegiatan berjalan seperti biasanya. Bahkan pengungsi di salah satu posko pengungsian sudah siap untuk pulang, ada juga yang sudah berangkat kembali ke desa mereka. Ada ras syukur karena mereka akhirnya bisa pulang kembali. Tapi, tiba-tiba terdengar suara dentuman yang sangat keras. Gunung Sinabung yang kokoh dan megah kembali memperlihatkan kebesarannya melalui dentuman itu, dari kejauhan kami melihat asap hitam tebal membumbung ke atas. Seketika semuanya terasa gelap dan sesak. Kami panik bukan karena peristiwa itu tetapi karena pengungsi yang sedang dalam perjalanan pulang dan juga pengungsi yang sedang berada di ladang-ladang mereka.
Moderamen GBKP atau Sinode GBKP tempat kami bekerja langsung sigap menanggapi hal tersebut. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah membagikan masker agar masyarakat terhindar dari debu vulkanik Gunung Sinabung. Mobil-mobil yang parkir di depan kantor semua dioperasikan untuk membawa berkardus-kardus masker untuk dibagikan kepada masyarakat. Pegawai moderamen juga tidak ketinggalan, kami membagi-bagikan masker bagi masyarakat yang melintas di depan kantor moderamen.
Semenjak letusan kedua yang lebih besar tersebut, masyarakat Tanah Karo diliputi keresahan dan ketakutan. Semenjak letusan kedua tersebut jumlah pengungsi semakin membludak, sekitar 6266 orang pengungsi tersebar di 12 posko pengungsian. Pengungsi ini berasal dari daerah-daerah sekitar kaki gunung 3-5 km dari gunung. Ketakutan dan keresahan juga meliputi masyarakat yang jauh dari sekitar kaki gunung. Banyak warga yang mengatakan "Setiap saat kita merasakan ketakutan, keresahan. Aktivitas gunung tidak terprediksi, kapan saja bisa meletus kembali". Banyak yang takut akan keberadaan Gunung yang megah, kokoh, dan anggun itu. Hingga saat ini masih sering terjadi letusan-letusan kecil yang menyemburkan debu vulkanij, salah satunya kemarin sore. Ketika melihat ke arah gunung, kami melihat asap tebal membumbung ke atas gunung.
Setiap pagi, aku memperhatikan gunung itu. Aku melihat dia berdiri dengan kokoh dan indahnya. Ada kesedihan di hati ini, karena gunung yang begitu indah yang menambah pesona Tanah Karo menjadi hal yang sangat ditakutkan bahkan ada yang mengaharapkan dia tidak ada disana. Gunung Sinabung yang membawa keindahan dan menunjukkan kemegahan Tuhan, kini menjadi hal yang ditakutkan. Kasihan dia. Ketakutan dan keresahan yang dialami masyarakat selalu mengkambinghitamkan gunung yang megah itu, kekacauan dan kehancuran pertanian dipersalahkan kepadanya. Manusia tidak pernah mengoreksi diri dan selalu mencari kambing hitam. Kita orang yang berTuhan tapi terkadang mengabaikan Dia dan juga mempersalahkanNya melalui mempersalahkan alam ciptaanNya. Ada ungkapan syukur juga ketika di masa saya, saya bisa melihat kebesaran gunung itu, ada ungkapan syukur juga ketika dia telah pulih kembali dia akan memberikan hasil yang luar biasa bagi kita. Kesuburan tanah itu yang akan ia berikan. Keseburan tanah akan membeawa hasil yang berlipat ganda bagi para petani di sekitar Gunung Sinabung. Setiap ciptaan membutuhkan waktu untuk menujukkan siapa dirinya. Inilah waktu Gunung Sinabung menunjukkan dirinya dan kemegahannya. Beri dia waktu dan sabar terhadapnya. Jangan menghujatnya karena selama ini dia senantiasa mendampingi masyarakat Karo, memberikan udara yang bersih yang bisa dihirup oleh masyarakat Karo. Dia senantiasa menambah keindahan alam Tanah Karo, sampai saat ini pun dia tetap begitu. Kau yang dahulu dicipatakan indah, sekarang engkau semakin indah dan terlihat perkasa. Kami bangga kau ada di Tanah Karo.
![]() |
| Gunung Sinabung |
Terimakasih ya Tuhan atas keindahan alam yang Kau beri dan lindungi kami ketika kami merasa resah dan takut karena peristiwa alam yang terjadi. Berikan kepada kami kekuatan dan kemampuan untuk melihat rencana Tuhan di tengah debu vulkanik agar kami tidak mengecewakanMu dengan tidak mengucap syukur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar