Minggu, 12 Januari 2014

Aku Melihat Kemuliaan Tuhan

halooo..
akhirnya kita kembali bertemu setelah sekian lama.. :)
Sebelum nulis tentang judul di atas, aku mau ngucapin Happy New Year ya.. \(^_^)/
Lanjut ke judul hari ini
================>

Sekedar informasi, sudah 2 bulan lebih aku berada di salah satu posko pengungsian. Kami berada bersama-sama dengan para pengungsi erupsi Gunung Sinabung. Waktu yang sekian bulan tersebut telah membuat kami seperti sebuah keluarga. Kami saling tertawa dan berbagi cerita, kami juga menyaksikan saat mereka menangis dan berusaha memberikan dukungan bagi mereka. Sekedar infomasi, keadaan Gunung Sinabung sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera membaik malah yang ditunjukkan adalah semakin parah dan menyedihkan.. :(
Hari ini, aku berjalan bersama seorang nenek dan tiba-tiba ia menangis. Aku bertanya "kenapa nek?" Tanpa kuduga nenek berkata "kemana lagi lah kami ini ya nak?? Tadi diinformasikan, kampung kami sudah penuh dengan debu vulkanik. Semua pakaian kemarin dijemur, mau pulang ambil baju juga sudah tidak bisa. Tanaman kopi juga sudah hancur, tebu yang diharapkan jadi penghasilan juga sudah habis. Bagaimana dengan kami ini ya??". DIAM. Hanya itu yang kulakukan. Aku berusaha memberikan penguatan tapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku hanya mengelus punggung nenek tersebut.
Setelah nenek itu melanjutkan perjalanan ke tempat anaknya. Aku kembali ke posko dan kembali melanjutkan pekerjaanku. Tapi aku tidak sepenuhnya fokus. Saat itu jga aku memanjatkan doa "Tuhan, Kau melihat air mata kami kan? Kau melihat air mata nenek itu kan? Kau mendengar seruan kami kan? Kau pasti akan memulihkan keadaan kami kan? Aku tahu Kau pasti akan memulihkan kami. Tuhan berikan kami keyakinan bahwa Engkau akan memulihkan kami. Tunjukkan kemuliaanMu bagi kami"
==================
Hari Minggu ini, kami memilih untuk ikut ibadah jam 5 sore bersama-sama dengan keluarga baruku- para pengungsi -. Mulai hari ini masyarakat yang mengungsi di posko kami akan memakai gedung gereja dekat posko sebagai tempat ibadah mereka. Mereka bukan menumpang ibadah disana bersama dengan jemaat gereja tersebut tetapi mereka ibadah disana sebagai diri mereka sendiri dengan identitas sebagai warga jemaat gereja asal mereka.
Kami telat masuk gereja. Ibadah sudah dimulai tapi gak terlalu telat kok.hehee
Kami duduk. Aku memperhatikan sekeliling, aku melihat mereka-pengungsi-. Tiba-tiba air mataku jatuh. Aku bersyukur kepada Tuhan. Kenapa bersyukur sambil menangis? Karena aku menyaksikan kemuliaan Tuhan. Ya, aku menyaksikannya. Aku melihat mereka sebagai pribadi yang mempunyai identitas. Mereka menujukkan identitas mereka melalui cara mereka mengambil bagian dalam ibadah minggu hari ini. Mereka mengungsi, mereka tidak membawa rumah mereka bersama mereka, mereka juga tidak membawa gereja mereka. Tetapi mereka mendapat tempat untuk tetap bisa melakukan kegiatan peribadatan mereka, dengan cara mereka, dengan identitas mereka.
Seperti yang pendeta sampaikan saat khotbah tadi, "...bangsa Israel saat berada di perbudakan mereka merindukan asal mereka, mereka merindukan kebiasan-kebiasan mereka..." Tetapi, mereka, di tempat yang tidak mereka ketahui (bukan tempat asal mereka), mereka bisa melakukan kebiasaan mereka, mereka bisa menyapa Tuhan mereka dengan cara mereka, dengan pengaturan dari mereka. Itu sangat luar biasa.
Inilah kemuliaan Tuhan yang tadi aku pertanyakan. Dia menujukkanNya melalui dan dalam proses ibadah tadi sore. Tuhan menunjukkan kemulianNya. Inilah awal pembaharuan bagi para pengungsi yang telah Tuhan tunjukkan. Tuhan akan terus menyediakan pembaharuan-pembaharuan bagi umatNya.
Kembali, aku mengingat nenek tadi. Inilah jawaban atas tangisan nenek tadi. Inilah jawaban atas semua kegelisahan dan ketakutan para pengungsi. Tuhan akan terus bekerja bersama-sama dengan manusia. Dia tidak pernah tega melihat kita menderita. Dia akan selalu berencana untuk kebaikan manusia. Tuhan akan tetap bekerja. Kita juga harus tetap bekerja bersama Dia.

2 komentar: