Sabtu, 12 Juli 2014

Kisah Sebentar (I)

Kau menggenggam tangan ini, ada kehangatan yang kurasa. Kau bertanya apakah aku keberatan?? Aku hanya terdiam. Aku yakin kau pasti tau, aku sama sekali tidak keberatan. Aku merasa nyaman dengan genggaman itu, sama seperti kau.

Awalnya, ini hanyalah gurauan. Aku senang mengganggumu yang pendiam, aku suka menggodamu, aku tertawa mendengar cerita konyolmu, senang menyaksikan kekikukkanmu, aku menikmati keberhasilanku saat mengganggumu.
Mereka yang ada di sekitar kita ikut mengganggu kita. Mereka menggoda kita, mereka menceritakan apapun tentangmu kepadaku. Mereka mengait-ngaitkan kau dan aku. Awalnya, ini hanya berjalan biasa. Tapi, semakin sering aku mendengar mereka menceritakan engkau padaku dan memperhatikanmu. Aku merasakan ada yang berbeda. Setiap melihatmu aku merasakan ada getaran berbeda. Awalnya ini hanyalah candaan tapi akhirnya aku merasakan aku jatuh cinta padamu. Ya, aku jatuh cinta. Gangguan dan gurauan ini membuatku merasakan itu. Wajar, aku seorang perempuan yang suka bermain dengan perasaan. Aku akui itu dan aku bersyukur pada Dia yang telah mengijinkan aku merasakan ini padamu.
Rasa ini semakin bertumbuh karena sikap yang kau tunjukkan padaku. Kau menujukkan perhatianmu padaku, kau menunjukkan rasa cintamu padaku (menurutku...hehe).

Jumat, 28 Maret 2014

Tentang Kamu, Tentang Kita, Tentang Aku

Tulisan ini sebenarnya aku tulis sebagai tulisan kesan pesan tentang fakultas dan segala isinya termasuk mereka yang telah menjadi saudara di dalam Teologi 2008 (We Are One)..
Tulisan ini sudah lama tersimpan di my document, sekarang aku ingin menunjukkannya disini..^_^



Aku bersyukur kepada Tuhan setiap kali aku mengingat engkau... :)
       Siapa aku?
·         In The Past
Aku adalah seorang yang pendiam, pemalu dan tidak percaya diri. Aku seorang yang tidak bisa menerima kritikan dari orang lain, aku menganggap bahwa akulah orang terhebat dengan tidak mempunyai cacat sedikit pun. Tetapi itu hanya perasaanku saja, dan dari rasa membanggakan diri sendiri secara berlebihan itu membuatku tidak bisa menerima kekalahan atau kegagalan sehingga ketika aku memperoleh kegagalan maka aku akan terdiam dan merasa malu sendiri. Dan dari pengalaman ini membuatku menjadi minder karena takut akan membuat kesalahan lagi. Orang-orang disekitarku juga banyak yang mengatakan bahwa aku itu anak yang pendiam tapi “smart” itulah kata mereka tentangku. Tapi sebenarnya di saat aku berada di tengah-tengah keluargaku, aku bisa membawa suasana menjadi lebih hidup. Aku hanya berani mengekspresikan diri ketika berada di tengah-tengah mereka, orang-orang terdekatku. Aku juga seseorang yang mudah mengeluarkan air mata, ketika aku mendapat sedikit teguran maka tanpa diberi aba-aba pun air mataku akan jatuh membasahi bumi. Ini mungkin efek dari sifatku yang tidak bisa menerima kritikan.
·         In The Present
Aku yang sekarang sangat berbeda dengan diriku di masa lalu. Aku juga merasa heran dengan perubahan sifat yang terjadi di dalam diriku. Aku yang sekarang adalah anak yang periang, ceria, tidak pernah kelihatan murung dan terlihat selalu semangat (menurut teman-temanku). Aku yang dulunya tidak berani mengeluarkan pendapat, yang tidak berani bersilat lidah, yang selalu minder jika tampil di depan kelas apalagi tampil di depan banyak orang yang belum terlalu dikenal. Semuanya itu sirna. Tapi perubahan ini benar-benar nyata, aku sudah berani tampil di depan banyak orang bahkan sampai-sampai “tak tahu malu”, aku berani mengeluarkan ide-ideku. Bahkan sekarang aku sudah bisa bergaul dengan teman-temanku (bisa menyesuaikan diri), aku merasa lucu ketika aku mengingat diriku yang selalu minder dan terlalu menutup diri kepada orang lain padahal ketika kita membuka diri kita untuk menerima orang lain di dalam kehidupan kita maka pada saat itu kita akan memperoleh sesuatu yang berharga dan sangat berarti.
Kau bisa melihat perbedaannya??
Ya, aku mengalami perubahan. Itu semua karena KITA. KITA telah menjadi orang-orang terdekat yang memberikan ruang untuk berekspresi. KITA yang memberikan senyuman, KITA yang memberikan dukungan, KITA yang mau memberi dan berbagi. Aku juga semakin bertumbuh karena KITA yang merepotkan, KITA yang menjengkelkan, KITA yang selalu berdebat dan berselisih, KITA yang selalu ingin lari menjadi aku dan kamu. Itu semua karena KITA. Terimakasih banyak buat Dia yang mengjinkan aku dan kamu bertemu menjadi KITA. Bersama KITA semua hal menjadi istimewa. KITA gila bersama, KITA menangis bersama, KITA memecah-mecah dirinya menjadi aku dan kamu tapi dari hal itulah KITA semakin mengenal dan dikuatkan. Aku berharap KITA dapat kembali bertemu dan menujukkan hasil dari perjalanan KITA. KITA akan terus berjuang dan terus ada. Tuhan memberkati KITA (We Are One-Teologi 2008 UKSW).
KITA juga dibantu oleh orang-orang yang hebat. KITA dibantu oleh kakak, ayah, ibu, om, tante, oma dan opa yang datang dalam bentuk dosen-dosen dan staf KITA. Mereka orang-orang hebat yang turut membentuk KITA. Keakraban, persahabatan dan kekeluargaan yang mereka tawarkan suatu hal yang sangat berharga yang dapat membentuk pribadi-pribadi yang hebat. Bersyukur pernah mengenal mereka dan akan terus mengingat jasa mereka. Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan bapak ibu sekalian untuk dapat terus menjadikan Teologi sebagai rumah bagi mahasiswanya... :) 

Harapanku sangat besar untuk dapat bertemu kembali denganmu, bercanda denganmu dan menikmati hari denganmu. Sampai ketemu.. ;)

Kamis, 27 Maret 2014

Aku Menikmati Hariku Disini

Kesal-Kangen
Sakit-Sehat
Tawa, Canda- Air Mata
Lelah-Semangat

Rasa yang berlawan tapi bisa datang bersamaan. Itu yang kurasakan ketika aku berada disini, Pos Pengungsian. Yup, pos pengungsian yang sudah seperti rumah bagiku. Hampir 5 bulan lebih berada disini, kami sudah saling mengenal dan saling tahu.
Kami tertawa bersama, kami bekerja bersama, kami juga bersenang-senang bersama.
Hari Minggu, 23 Maret 2014 aku bersama dengan keluarga baruku pergi untuk rekreasi bersama. Setelah hampir 5 bulan berada di pos pengungsian, ini adalah pertama kalinya kami pergi rekreasi bersama.. :)
Kami rekreasi ke sebuah daerah yang bernama Sukamakmur. Disana kami mencari ikan bersama di sebuah kolam yang sengaja dikeringkan (dalam bahasa Karo kami menyebutnya ndurung..hehe). Seperti biasanya, saya suka dengan kehebohan, saya berjingkat di dalam lumpur, saya melompat-lompat sambil mencari-cari ikan di dalam lumpur tersebut. Saya juga perang lumpur dengan adik-adik, seluruh badan sudah dilumuri lumpur. Rambut lengket penuh kumpur. Saya senang, saya menikmati hari itu. Saya menikmati kebersamaan dan kegilaan dengan adik-adik juga.
Saat sedang serius-seriusnya mencari-cari ikan, saya merasakan sesuatu di kaki saya. Ouchh.. Ada rasa perih dan seperti ada yang koyak. Saya mengangkat kaki saya dan melihat kaki saya robek -atau apalah bahasanya-, saya bingung, saya agak cemas dan tetap heboh (bawaan orok kali ya, jadi tetap heboh). Ada rasa sakit tapi tidak ada tangisan. Nora (istri Pendeta) yang kebetulan ikut dalam acara rekreasi tersebut membawa kami ke rumahnya yang kebetulan disana juga ada mini klinik-nora tersebut seorang bidan-. Kaki saya dijahit, sekali lagi DIJAHIT. Rasanya... Hmmmm, lebih sakit saat di bius sih..hehehe Baru sadar itu pertama kalinya saya berteriak karena rasa sakit..hahaha
Saya bangga melihat bekas luka itu, aneh kan?? Tapi memang itulah yang saya rasakan.
Sampai saat ini kaki saya masih belum bisa diperlakukan dengan sesuka hati seperti biasanya-lari, lompat, jalan kesana kemari-. Harus diaaaaaaaaaamm. Dan itu sangat membosankan..:/

Tapi satu yang kusadari, keluarga baruku di pos pengungsian ini sangat memperhatikan aku. Saat aku berjalan tertatih ingin ke kamar mandi, anak-anak berebut mengejarku dan menuntunku. Saat mereka melihat aku tertatih, mereka menawarkan sejuta resep pengobatan agar kakiku cepat sembuh. Saat mereka melihat aku tidur siang, mereka berpikir aku demam karena keadaan kakiku. Mereka menunjukkan perhatian mereka dengan berbagai cara. Bahkan ada juga yang bercanda, menirukan cara berjalanku yang tertatih. Walau begitu, aku tahu itu cara mereka menghiburku.. ^_^
Well, walau agak lelah dan terkadang sudah bosan berada disini selalu ada cara-cara unik Tuhan untuk menujukkan keindahan dan perhatian yang pada akhirnya menjauhkan rasa lelah dan bosan itu. Aku menikmati hari-hariku di posko ini, aku menikmati hari-hariku bersama mereka. Ini kesempatakan luar biasa yang dapat kurasakan. Terimakasih banyak, terus mampukan kami memberikan yang terbaik di posko ini.


Minggu, 12 Januari 2014

Aku Melihat Kemuliaan Tuhan

halooo..
akhirnya kita kembali bertemu setelah sekian lama.. :)
Sebelum nulis tentang judul di atas, aku mau ngucapin Happy New Year ya.. \(^_^)/
Lanjut ke judul hari ini
================>

Sekedar informasi, sudah 2 bulan lebih aku berada di salah satu posko pengungsian. Kami berada bersama-sama dengan para pengungsi erupsi Gunung Sinabung. Waktu yang sekian bulan tersebut telah membuat kami seperti sebuah keluarga. Kami saling tertawa dan berbagi cerita, kami juga menyaksikan saat mereka menangis dan berusaha memberikan dukungan bagi mereka. Sekedar infomasi, keadaan Gunung Sinabung sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera membaik malah yang ditunjukkan adalah semakin parah dan menyedihkan.. :(
Hari ini, aku berjalan bersama seorang nenek dan tiba-tiba ia menangis. Aku bertanya "kenapa nek?" Tanpa kuduga nenek berkata "kemana lagi lah kami ini ya nak?? Tadi diinformasikan, kampung kami sudah penuh dengan debu vulkanik. Semua pakaian kemarin dijemur, mau pulang ambil baju juga sudah tidak bisa. Tanaman kopi juga sudah hancur, tebu yang diharapkan jadi penghasilan juga sudah habis. Bagaimana dengan kami ini ya??". DIAM. Hanya itu yang kulakukan. Aku berusaha memberikan penguatan tapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku hanya mengelus punggung nenek tersebut.
Setelah nenek itu melanjutkan perjalanan ke tempat anaknya. Aku kembali ke posko dan kembali melanjutkan pekerjaanku. Tapi aku tidak sepenuhnya fokus. Saat itu jga aku memanjatkan doa "Tuhan, Kau melihat air mata kami kan? Kau melihat air mata nenek itu kan? Kau mendengar seruan kami kan? Kau pasti akan memulihkan keadaan kami kan? Aku tahu Kau pasti akan memulihkan kami. Tuhan berikan kami keyakinan bahwa Engkau akan memulihkan kami. Tunjukkan kemuliaanMu bagi kami"
==================
Hari Minggu ini, kami memilih untuk ikut ibadah jam 5 sore bersama-sama dengan keluarga baruku- para pengungsi -. Mulai hari ini masyarakat yang mengungsi di posko kami akan memakai gedung gereja dekat posko sebagai tempat ibadah mereka. Mereka bukan menumpang ibadah disana bersama dengan jemaat gereja tersebut tetapi mereka ibadah disana sebagai diri mereka sendiri dengan identitas sebagai warga jemaat gereja asal mereka.
Kami telat masuk gereja. Ibadah sudah dimulai tapi gak terlalu telat kok.hehee
Kami duduk. Aku memperhatikan sekeliling, aku melihat mereka-pengungsi-. Tiba-tiba air mataku jatuh. Aku bersyukur kepada Tuhan. Kenapa bersyukur sambil menangis? Karena aku menyaksikan kemuliaan Tuhan. Ya, aku menyaksikannya. Aku melihat mereka sebagai pribadi yang mempunyai identitas. Mereka menujukkan identitas mereka melalui cara mereka mengambil bagian dalam ibadah minggu hari ini. Mereka mengungsi, mereka tidak membawa rumah mereka bersama mereka, mereka juga tidak membawa gereja mereka. Tetapi mereka mendapat tempat untuk tetap bisa melakukan kegiatan peribadatan mereka, dengan cara mereka, dengan identitas mereka.
Seperti yang pendeta sampaikan saat khotbah tadi, "...bangsa Israel saat berada di perbudakan mereka merindukan asal mereka, mereka merindukan kebiasan-kebiasan mereka..." Tetapi, mereka, di tempat yang tidak mereka ketahui (bukan tempat asal mereka), mereka bisa melakukan kebiasaan mereka, mereka bisa menyapa Tuhan mereka dengan cara mereka, dengan pengaturan dari mereka. Itu sangat luar biasa.
Inilah kemuliaan Tuhan yang tadi aku pertanyakan. Dia menujukkanNya melalui dan dalam proses ibadah tadi sore. Tuhan menunjukkan kemulianNya. Inilah awal pembaharuan bagi para pengungsi yang telah Tuhan tunjukkan. Tuhan akan terus menyediakan pembaharuan-pembaharuan bagi umatNya.
Kembali, aku mengingat nenek tadi. Inilah jawaban atas tangisan nenek tadi. Inilah jawaban atas semua kegelisahan dan ketakutan para pengungsi. Tuhan akan terus bekerja bersama-sama dengan manusia. Dia tidak pernah tega melihat kita menderita. Dia akan selalu berencana untuk kebaikan manusia. Tuhan akan tetap bekerja. Kita juga harus tetap bekerja bersama Dia.