Memantaskan Diri (3)
#PTRB
Tulisan
ini merupakan renungan berantai yang ditulis oleh beberapa teman secara
bergiliran. Tulisan ini adalah tulisan ketiga. Tulisan kedua dapat dibaca di
blog Ester Damaris disini : http://nuduate.blogspot.com/2015/04/single-rules-for-sacred-search-2-ptrb.html?spref=fb
“ Because you trust
God’s perfect timing and you know that every moment of the wait is preparing
you for the one you’ve been waiting for “
Aku
seorang perempuan single, yang sebentar lagi akan memasuki usia 25 tahun.
Banyak yang beranggapan bahwa usia 25 adalah usia dewasa, matang sudah siap
untuk memasuki dunia yang baru, dan dianggap usia ideal untuk membina sebuah
rumah tangga. Jadi, jangan heran kita akan lebih sering mendengar pertanyaan
“kapan rencananya ni?” atau lebih parahnya lagi jika kawan atau sahabat sudah menikah
maka pertanyaan itu akan berubah menjadi “kapan nyusul ni buk? temen kamu udah
tu”. Pertanyaan ini tidak akan terasa
terlalu mengganggu bagi mereka yang sudah memiliki kekasih, mereka
menjawab dengan senyuman saja sudah cukup. Bagaimana dengan mereka yang sama
sekali belum memiliki kekasih? Pertanyaan ini mungkin seperti sembilu yang
langsung menusuk ke ulu hati. Jleb.
Aku
sering bertanya-tanya juga di dalam hati, saat teman-temanku yang lain sudah
memiliki seorang kekasih. Kenapa aku masih sendiri ya? Apa yang salah dengan
diriku? Apa memang betul aku tidak memiliki pesona? Apa Tuhan masih
mengingatku, atau apakah betul jodohku sudah disiapkan olehNya? Banyak
pikiran-pikiran lain yang membuatku (kadang) mengasihani diri sendiri. Jika
sudah bisa begitu apa yang bisa kita lakukan? Diam. Tidak ada apa-apa. Apakah
hidup hanya mengenai pencarin dan penemuan pasangan hidup? Apakah hidup sebegitu tidak berartinya? Apakah dengan diam maka semuanya akan
baik-baik saja? Waktu akan terus berjalan, begitu juga dengan usia kita.
Menikah atau menemukan pasangan bukan seperti lomba lari, siapa yang lebih dulu
sampai di finish dia yang akan mendapatkan piala. Apakah dengan menikah dan
menemukan pasangan, kehidupan akan berjalan dengan mulus tanpa rintangan dan
tidak akan mengalami kesedihan? Jawabannya, unpredictable.
Kita
harus tetap berjalan, hidup belum berakhir. Keep moving on Ladies. Kita semakin
sadar bahwa kualitas kehidupan kita bukan ditentukan oleh siapa yang ada di
sisi kita tetapi hanya kita yang mampu membuat hidup kita bermakna. Gunakan
waktu sendiri untuk membuat sesuatu yang bermakna. Manfaatkan setiap kesempatan
karena inilah waktu yang tepat; saat single.
Rangkullah waktu-waktu tersebut sebagai hadiah dari Allah yang berisi
kesempatan-kesempatan untuk melayaniNya dan memantaskan diri (memaksimalkan potensi yang ada dalm diri). Kerjakan dulu eden-mu. Dia
memperhatikan kebutuhanmu.
Proses pemantasan diri kita lalui bersama dengan Kristus karena Dia yang mampu membantu kita memantaskan diri, membuat kita menjadi berarti. Berikan ruang bagiNya untuk bekerja bersama kita agar apa yang menjadi rencanaNYa dapat berjalan dalam diri kita termasuk juga dalam pencarian kita terhadap pasangan hidup. 'Because you trust God’s
perfect timing and you know that every moment of the wait is preparing you for
the one you’ve been waiting for '. Kita
ingin menemukan pasangan yang tepat yang pantas untuk kita bukan? Kalau begitu
kita juga harus menjadi orang yang pantas bagi dia. Dia yang terbaik disiapkan
juga bagi kita yang terbaik. Jangan hanya meminta Tuhan untuk menyediakan waktu
yang tepat bagi kita untuk bertemu dengan dia yang pantas bagi kita tanpa
pernah berusaha untuk memantaskan diri. Jadilah bijak dalam mengisi masa penantian. Jika
belum selesai dengan diri sendiri, masih ada impian yang ingin dicapai.
Selesaikan, gapailah mimpi itu. Jangan takut menjelajah tempat baru, memasuki
tempat pelayanan baru, memainkan peran yang baru. Bagaimana jika kita masih
mengalami kekosongan dan kehampaan? Mintalah Tuhan mengisi kekosongan itu,
bukan menjadikan itu alasan bagi kita untuk mengiyakan semua tawaran cinta dari sembarang lelaki (dengan harapan, kekosongan kita mampu diisi oleh kehadiran seorang lelaki). Penuhkan dirimu dan hatimu dengan mencapai
mimpi-mimpimu, dengan perjalanan-perjalananmu, dengan pengalaman-pengalamanmu.
Jangan harap bahwa pasangan kita kelak mampu mengisi penuh hidup dan hati kita.
Saya dan dia adalah pribadi-pribadi yang berbeda, yang menempuh perjalanan
hidup yang berbeda, latar belakang yang berbeda dan terkadang memiliki mimpi
yang berbeda pula, berarti yang satu pihak harus melupakan bahkan mengubur
mimpinya untuk mewujudkan mimpi pihak yang lain. Penuhkan diri hanya dengan
meminta Tuhan mengisi hati kita.
Saya
pernah jatuh cinta. Saya betul-betul yakin dengan dia, karena sepertinya dia
membalas perasaan saya. Bagaimana bisa saya beranggapan begitu? Karena dia
menujukkan juga perhatian itu pada saya. Saat saya menikmati perasaan itu, saya
diharuskan untuk memasuki wilayah pelayanan yang baru. Saya ditempatkan di
tempat yang jauh dari dia. Saat berada di daerah pelayanan, saya tidak bisa
berbohong kalau masih banyak waktu saya yang tersita oleh dia. Rasa rindu
terhadap kampung halaman semakin menjadi. Yang ada dipikiran saya hanyalah
ingin pulang, pulang dan pulang. Sampai suatu saat, saat saya kembali ke
kampung halaman dan menemukan sebuah fakta baru bahwa dia yang saya cinta (dan
yang saya pikir mencintai saya) adalah milik orang lain. Ternyata saat saya
menikmati kedekatan kami dulu, dia sedang menjalin sebuah hubungan dengan
perempuan lain. Pedih? Tentu iya. Harapan saya untuk mempunyai seorang kekasih
semakin jauh (tentunya, karena saya berharap dialah orangnya :/ ), ditambah
lagi tempat pelayanan saya yang sekarang (saya pikir) kurang mempunyai potensi
sebagai tempat pencarian pasangan hidup.
Apa
yang harus saya lakukan kalau begitu? “Keadaan sekeliling dan lokasi
geografismu tidaklah mengancam kehendak dan tujuan Allah. Dia satu hari kelak
akan membawa pria yang tepat padamu jika Anda memang akan menikah. Lokasi atau
pekerjaanmu mungkin tidak membuatmu sangat mudah dijangkau oleh pria-pria saleh
yang belum berpasangan, tetapi berbagai penghalang jalan ini tidak akan
merintangi Allah” (Lady in Waiting, p.52). Saya hanya perlu percaya kepada
waktu terindah dari Tuhan sambil bersiap mengindahkan diri untuk menyambut hari
indah bersama ‘dia’ yang diindahkan juga. Saya tidak takut menghadapi masa
single, saya tidak terlalu terganggu dengan pertanyaan “kapan nikah?” karena
semua orang mempunyai jalan hidup masing-masing. Tidaklah mudah untuk percaya
kepada janji Tuhan dan menunggu itu terbukti. “Aku benar-benar tahu bahwa
menantikan Allah membutuhkan kerelaan untuk menanggung ketidakpastian, membawa
di dalam diri pertanyaan yang tak terjawab, mengangkat hati kepada Allah
mengenainya setiap kali itu menyusup ke dalam pikiran” (Elisabeth Elliot)
Waktu-waktu lajang yang masih bisa saya nikmati, saya gunakan untuk memantaskan diri saya supaya saya layak mendapatkan yang terbaik dari Tuhan. Masih ada banyak mimpi yang ingin saya capai, masih banyak hal yang ingin saya nikmati. Dengan ketidakhadiran seorang pendamping bukan berarti saya berhenti melangkah, berhenti mengejar mimpi. Saya tetap berjalan, berjalan dan berjalan samapi suatu hari saya telah menjadi indah bertemua dengan dia yang indah, waktu itu adalah waktu yang indah. Jadi, bagaimana?? Masih takut menjalani masa lajang???
