Senin, 21 Oktober 2013

Ketika Keindahan Menjadi Sumber Ketakutan

Beberapa waktu yang lalu, kita semua tahu tentang peristiwa yang terjadi di Tanah Karo yaitu erupsi Gunung Sinabung. Erupsi ini menyusul erupsi yang telah terjadi juga pada tahun 2010 yang lalu. Tidak ada peringatan untuk segera mengungsi dari pihak yang berwenang kepada warga yang ada di kaki gunung. Kata mereka erupsi yang terjadi pada dini hari di hari Minggu (15/9) tidak dapat diprediksi. Sebelum kejadian meletus pada dini hari itu, masyarakat sudah mulai diingatkan akan status waspada dari gunung tersebut. Masyarakat juga juga ditenangkan dengan informasi yang mengatakan bahwa gunung Sinabung tidak akan meletus dalam waktu dekat, tiga hari sebelum gunung meletus kita akan memperoleh informasinya dari alat yang digunakan dan hal tersebut akan diberitahukan kepada masyarakat khususnya yang terletak di bawah kaki gunung.
Apa yang terjadi?? Sampai gunung Sinabung mengalami erupsi pada dini hari itu, belum ada pemberitahuan dari pihak yang mengawasi aktivitas gunung Sinabung tersebut. Erupsi pada dini hari itu sontak mengejutkan dan berhasil membuat panik semua masyrakat baik yang di kaki gunung walaupun yang jauh dari kaki gunung. Kami menyaksikan gunung menyala dari kejauhan. Kami belum yakin apakah itu letusan ataukah pembakaran hutan yang terjadi di atas gunung. Ketidakyakinan kami karena belum ada pemberitahuan yang lebih lanjut dari petugas. Akhirnya kami menghubungi keluarga yang memang berdomisili di daerah kaki gunung Sinabung, mereka mengatakan bahwa mereka mendengar suara gemuruh dari gunung dan memang benar itu adalah ledakan. Saat itu mereka sedang bersiap untuk mengungsi. Sampai hari itu berlalu, saya belum yakin akan apa yang saya lihat. Saya belum yakin bahwa itu adalah letusan gunung Sinabung. 
Esoknya, di hari Senin. Kami pergi bekerja di kota dan melihat ternyata di daerah Kabanjahe telah banyak berdiri posko-posko pengungsian. Akhirnya saya berkata kepada diri saya sendiri, "ya, berarti benar Gunung Sinabung meletus". Pada hari itu daerah sekitar gunung terlihat aman-aman saja dan menurut perkiraan kami tidak akan terjadi lagi letusan. Memang benar, hari Senin itu semua aman-aman saja. Hari Selasa datang menghampiri, semua kegiatan berjalan seperti biasanya. Bahkan pengungsi di salah satu posko pengungsian sudah siap untuk pulang, ada juga yang sudah berangkat kembali ke desa mereka. Ada ras syukur karena mereka akhirnya bisa pulang kembali. Tapi, tiba-tiba terdengar suara dentuman yang sangat keras. Gunung Sinabung yang kokoh dan megah kembali memperlihatkan kebesarannya melalui dentuman itu, dari kejauhan kami melihat asap hitam tebal membumbung ke atas. Seketika semuanya terasa gelap dan sesak. Kami panik bukan karena peristiwa itu tetapi karena pengungsi yang sedang dalam perjalanan pulang dan juga pengungsi yang sedang berada di ladang-ladang mereka. 
Moderamen GBKP atau Sinode GBKP tempat kami bekerja langsung sigap menanggapi hal tersebut. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah membagikan masker agar masyarakat terhindar dari debu vulkanik Gunung Sinabung. Mobil-mobil yang parkir di depan kantor semua dioperasikan untuk membawa berkardus-kardus masker untuk dibagikan kepada masyarakat. Pegawai moderamen juga tidak ketinggalan, kami membagi-bagikan masker bagi masyarakat yang melintas di depan kantor moderamen.
Semenjak letusan kedua yang lebih besar tersebut, masyarakat Tanah Karo diliputi keresahan dan ketakutan. Semenjak letusan kedua tersebut jumlah pengungsi semakin membludak, sekitar 6266 orang pengungsi tersebar di 12 posko pengungsian. Pengungsi ini berasal dari daerah-daerah sekitar kaki gunung 3-5 km dari gunung. Ketakutan dan keresahan juga meliputi masyarakat yang jauh dari sekitar kaki gunung. Banyak warga yang mengatakan "Setiap saat kita merasakan ketakutan, keresahan. Aktivitas gunung tidak terprediksi, kapan saja bisa meletus kembali". Banyak yang takut akan keberadaan Gunung yang megah, kokoh, dan anggun itu. Hingga saat ini masih sering terjadi letusan-letusan kecil yang menyemburkan debu vulkanij, salah satunya kemarin sore. Ketika melihat ke arah gunung, kami melihat asap tebal membumbung ke atas gunung. 
Setiap pagi, aku memperhatikan gunung itu. Aku melihat dia berdiri dengan kokoh dan indahnya. Ada kesedihan di hati ini, karena gunung yang begitu indah yang menambah pesona Tanah Karo menjadi hal yang sangat ditakutkan bahkan ada yang mengaharapkan dia tidak ada disana. Gunung Sinabung yang membawa keindahan dan menunjukkan kemegahan Tuhan, kini menjadi hal yang ditakutkan. Kasihan dia. Ketakutan dan keresahan yang dialami masyarakat selalu mengkambinghitamkan gunung yang megah itu, kekacauan dan kehancuran pertanian dipersalahkan kepadanya. Manusia tidak pernah mengoreksi diri dan selalu mencari kambing hitam. Kita orang yang berTuhan tapi terkadang mengabaikan Dia dan juga mempersalahkanNya melalui mempersalahkan alam ciptaanNya. Ada ungkapan syukur juga ketika di masa saya, saya bisa melihat kebesaran gunung itu, ada ungkapan syukur juga ketika dia telah pulih kembali dia akan memberikan hasil yang luar biasa bagi kita. Kesuburan tanah itu yang akan ia berikan. Keseburan tanah akan membeawa hasil yang berlipat ganda bagi para petani di sekitar Gunung Sinabung. Setiap ciptaan membutuhkan waktu untuk menujukkan siapa dirinya. Inilah waktu Gunung Sinabung menunjukkan dirinya dan kemegahannya. Beri dia waktu dan sabar terhadapnya. Jangan menghujatnya karena selama ini dia senantiasa mendampingi masyarakat Karo, memberikan udara yang bersih yang bisa dihirup oleh masyarakat Karo. Dia senantiasa menambah keindahan alam Tanah Karo, sampai saat ini pun dia tetap begitu. Kau yang dahulu dicipatakan indah, sekarang engkau semakin indah dan terlihat perkasa. Kami bangga kau ada di Tanah Karo. 

Gunung Sinabung

Terimakasih ya Tuhan atas keindahan alam yang Kau beri dan lindungi kami ketika kami merasa resah dan takut karena peristiwa alam yang terjadi. Berikan kepada kami kekuatan dan kemampuan untuk melihat rencana Tuhan di tengah debu vulkanik agar kami tidak mengecewakanMu dengan tidak mengucap syukur. 

Kerja Tahun (Mburo Ate Tedeh)

Rumah berantakan dan kotor?? Tidak apa-apa...
Semua persediaan makanan habis?? Santaiiii...
Memilih bahan makanan yang terbaik?? Ya iyalah...
Memberi makan kepada siapa saja yang datang ke rumah walaupun kita tidak mengenal mereka?? Silahkan..

Semua hal tersebut jika terjadi pada hari-hari biasa akan terasa menggangu atau bahkan dianggap merugikan. Tapi tidak jika hal tersebut dilakukan saat kerja tahun. Mungkin kalian akan bertanya "Apa sih kerja tahun??" "Itu bahasa apa ya??"

Kerja Tahun adalah sebuah acara tahunan yang pasti akan dilakukan oleh masyarakat Karo setiap tahunnya layaknya seperti acara tahun baru atau hari-hari raya yang lain. Kerja Tahun ini merupakan ritus peninggalan Hindu, yang dilaksanakan sebelum menanam padi tiba. Dalam ritus ini dibuat penyembahan-penyembahan agar padi yang ditanam dapat memberikan hasil yang mencukupi kebutuhan. [1]

Namun, sekarang kerja tahun bukan lagi dipahami sebagai sarana untuk penyembahan-penyembahan dan sebagainya. Hal ini terjadi karena telah masuknya agama baru ke dalam kehidupan orang Karo seperti Kristen dan Islam. Kerja tahun sekarang ini dijadikan sebagai sarana untuk silaturahmi keluarga atau dalam bahasa Karo disebut dengan Mburo Ate Tedeh. Orang Karo sekarang ini bukan hanya menempati atau berdomisili di wilayah Tanah Karo tapi mereka telah menyeber ke seluruh daerah di pelosok Nusantara seperti di Aceh, Sumatera bagian lain selain Sumatera Utara, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi bahkan sampai di Tanah Papua. Kerja Tahun yang diadakan setahun sekali inilah yang dijadikan sebagai waktu untuk berkunjung kembali ke tanah kelahiran mereka. Saat kerja tahun semua keluarga yang tersebar di seluruh Nusantara tadi akan kembali ke tanah kelahiran dan berkumpul dengan keluarga, reuni dengan teman sekolah atau teman sepermainan, menikmati hiburan ala Karo, menikmati sajian-sajian makanan khas Karo. Kerinduan mereka akan Tanah Karo dan segala isinya akan terbayar saat kerja tahun ini. Mungkin karena itu pula disebut sebagai Mburo Ate Tedeh. 

Saat kerja tahun ada satu jenis makanan yang wajib ada yaitu cimpa. Cimpa ini terbuat dari tepung yang di dalamnya ada gula. gula terbuat dari gula aren dan kelapa. Cimpa ini dibungkus dengan daun yang disebut bulung singkut. Makanan khas lain yang wajib ada adalah pagit-pagit. Jika dilihat dari bahan pembuatan pagit-pagit mungkin kita tidak akan berniat untuk memakannya tetapi jika sudah mencobanya kita pasti tidak akan melupakannya dan dijamin pasti ketagihan. hmmmmmmmmm...
oh iya, waktu kerja tahun untuk setiap kampung atau desa di Tanah Karo berbeda-beda, ada yang melaksanakannya di bulan Januari, Maret, Agustus, dll.  Kalau di kampung saya diadakan setiap bulan Oktober (baru diadakan 2 hari yang lalu..hehhe).

Kembali ke catatab awal tadi. Kerja tahun bukan hanya ditujukan bagi keluarga dekat saja tetapi bagi siapa saja yang datang ke desa kita boleh menikmati suasana kerja tahun. Mereka bisa memasuki rumah siapa saja yang mereka mau walau tidak kenal, dan tuan rumah pasti akan memberi mereka makan. Hiburan yang sering diadakan saat kerja tahun adalah gendang guro-guro aron. Anak-anak muda dari desa tersebut akan memakai pakaian adat karo dan menari tarian tradisional Karo juga. Setiap orang yang datang ke desa tersebut  juga dapat ikut menari. Gendang ini memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin ikut menari. 

Nilai-nilai yang dapat dipetik dari Kerja Tahun ini adalah tidak menyimpan rejeki hanya untuk diri sendiri. Kerja Tahun mengingatkan orang Karo untuk peduli kepada orang lain bukan hanya kepada diri sendiri. Kerja Tahun juga sebagai sarana untuk mengucap syukur atas pemberian Tuhan. Tuhan telah memberi maka pemberianNya itu dibagikan juga kepada sesama. Kerja Tahun juga mengingatkan kita tentang kekayaan budaya Karo. Semoga budaya yang indah ini dapat terus terjaga dan dipelihara.. ^_^

Catatan :
[1] Tarigan, Sarjani. Lentera Kehidpan Orang karo dalam Berbudaya. 

Selasa, 08 Oktober 2013

W.A.O (We Are One).. ^_^

W.A.O (We Are One).. ^_^
 
Wao bisa jadi sebuah ungkapan yang keluar dari mulut kita ketika kita kagum akan suatu hal. Waoooooooo.... Ungkapan kekagumanku juga ketika aku bersama dengan teman-teman Teologi 2008 UKSW, ungkapan ini bukan hanya saat aku ada diantara mereka tapi juga terucap saat aku tak bersama mereka, saat aku memikirkan tentang mereka. Bagi Teologi 2008 wao bukan hanya sebagai ungkapan kekaguman tetapi juga sebutan untuk angkatan 2008 ini, yang berarti We Are One. Istilah ini terinspirasi dari sebuah lagu yang khusus menjadi lagu angkatan Teologi 2008 dengan judul yang sama yaitu We Are One. Istilah ini sah menjadi sebutan untuk angkatan 2008 ketika angkatan 2008 mempersembahkan sebuah pujian saat ibadah Fakultas Teologi. Kami angkatan 2008 akan menyanyikan lagu We Are One dan petugas ibadah pada saat itu menanyakan "nanti kami panggil vocal group apa kak?" Kami menjawab"WAO aja" Mereka membalas "WAOoooo..". "Ya, itu artinya WE ARE ONE"..
Banyak hal indah, pahit, menjengkelkan, menyenangkan, mengharukan, menegangkan bahkan sampai kehilangan yang kami alami dalam angkatan ini. Semua itu menjadi bumbu yang mempersedap dan memperlengkapi masing-masing anggota WAO bahkan memberntuk kepribadian WAO. Waktu kurang lebih 4 tahun yang ku jalani bersama mereka terasa sangat singkat, rasa-rasanya ingin terus bersama dengan mereka. Mereka itu sehangat keluarga sedekat sahabat yang dapat membuat engkau nyaman, yang membuatmu tetap mau berdiri saat engkau jatuh, yang mau memberi saat engkau merasa kurang. Hmmmmmmmm, pokoknya WAO itu memang waooooooooooo... (y)
Tetapi tidak mungkin bagi kami untuk terus bersama, kami harus mengabdikan diri kami beserta ilmu, pengalaman, kemampuan yang kami miliki ke tempat-tempat dimana Tuhan menempatkan kami. Perpisahan ini terasa berat tetapi seperti kata seorang dosen kami "kamu memang harus pergi dan berpisah agar kamu bisa menunujukkan buahmu" (intinya seperti itu, tepatnya lupa..hehehe). Well, sekarang kami telah menjalani hari-hari kami di tempat yang berbeda bahkan di waktu yang juga telah berbeda tapi aku yakin kami masih tetap memiliki ikatan, kami tetap saling mendukung karena WE ARE ONE... \(^_^)/
oh iya, aku memiliki sebuah tulisan yang aku buat setelah beberapa hari ada di kampung halaman (setelah lulus kuliah dan wisuda serta harus kembali ke rumah).. Ini dia

Hari-hari di Dunia Nyata
Hari pertama yang kujalani tanpamu tampaknya aman-aman saja, tidak ada kekhawatiran apalagi ketakutan. Everything is OK seperti yang ada dalam sebuah lirik lagu. Ah, padahal aku pikir sebelumnya aku betul-betul tidak akan bisa melanjutkan hidup; ketika aku jauh darimu seperti yang diceritakan mereka yang telah lebih dahulu menjalaninya.
Aku tiba di rumah ini, disambut dengan senyuman dan kehangatan. Tebak, ada mereka yang menanti kedatanganku. Bahkan mereka sanggup duduk bercerita denganku sampai pagi. Mereka benar-benar telah menghapusmu dari pikiranku. Saat itu aku tidak ingat dirimu. Aku memang menerima pesan darimu tapi aku tidak terlalu memasukkannya dalam hati, aku menganggap itu pesan biasa.
Keesokan harinya, aku bahkan kembali sangat berbahagia berada di dekat mereka. Tapi tahukah kamu?? Aku tiba-tiba mengingatmu dan mengharapkan aku ada di tengah-tengahmu atau kau yang ada di sini. Yang aku mau kita berada di tempat yang sama. Aneh.. aku bahagia bersama mereka tapi aku masih tetap mengingatmu. Aku merindukanmu. Aku merindukan suaramu, kegilaannmu bahkan caci makimu. Aku benar-benar ingin kembali bersama denganmu.
Keinginanku untuk bersamamu bertambah besar ketika aku mendapatkan pesan darimu “Kapan lagi kita bisa ketemu??”. Kau tahu, hatiku hancur membaca pesan tersebut. Aku berteriak. Kapan aku bisa melihatmu, kapan aku bisa mendengar suara, kapan aku bisa menikmati candamu?? Aku tahu sangat sulit untuk bisa menikmati semua itu kembali, aku bahkan sangat takut aku tidak akan melihatmu lagi, aku sangat takut tidak akan menikmati candamu lagi. tapi, kau tidak tahu itu. Kau tidak tahu itu. Aku membalas pesanmu “Jangan begitu. Biarkanlah air mata yang tumpah ini sebagai bentuk pengharapan kita bahwa suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi. persahabatn kan kekal jika Yesus beserta.. :)”.
Ketika mengirim pesan ini kepadmu, kau tahu? Aku juga mendapatkan kekuatan, aku kembali berharap bahwa kita pasti akan bertemu kembali suatu saat nanti. Saat itu aku juga mengingat seseorang pernah berkata “memang kamu harus pergi, karena dengan begitu kamu akan berbuah”. Aku di sini, kau di sana atau ntah dimana tapi yang aku tahu kita semua sedang berusaha untuk menghasilkan buah. Mari kita kembali berjuang bersama. Kita memang telah dipisahkan oleh jarak dan waktu tapi ingat hatiku dan hatimu masih terjalin oleh kasih persaudaraan sehingga semangatmu akan menjadi semangatku. Selamat berjuang bagi kita masing-masing. Kita pasti akan bertemu kembali dan akan kembali berbagi bersama.. :)